Rabu, 30 April 2014

ANALISA MANUSIA DAN PENDERITAAN

KISAH PILU KEHIDUPAN ANAK JALANAN

Pengamen dan pengemis anak bukan pemandangan baru di Jakarta. Ada yang merasa kasihan dan prihatin, tak sedikit juga yang sinis dan tak peduli. Namun, tahukah Anda bagaimana kehidupan anak jalanan sesungguhnya? Andes Lukman dan Ajeng Pinto menelusurinya dengan terjun langsung di antara mereka.

Siang itu daerah perempatan Jatinegara, Jakarta Timur, panas terik. Tampak seorang anak lelaki berusia 8 tahun tengah asyik menyanyi sambil menepuk-nepuk tangan di sisi sebuah mobil. Tak jelas syair lagu apa yang keluar dari mulutnya. Setelah bernyanyi beberapa bait, tangannya menadah pertanda meminta uang. Dengan muka memelas ia berkata, “Buat makan dan sekolah, Bu. Minta uang,” begitu katanya singkat.
Pemandangan seperti ini pasti se­ring Anda jumpai di sudut kota besar, terutama Jakarta. Tak peduli hujan atau panas, anak-anak ini tetap me­minta uang di jalanan. Timbul perta­nyaan, siapa mereka sebenarnya? Ke mana orang tua yang seharusnya bertanggung jawab atas anak-anak ini?

Penasaran dengan hal ini, beberapa waktu lalu kami menelusuri kehidupan pengemis dan pengamen anak-anak di sekitar Prumpung, Jakarta Timur. Untuk masuk ke dalam kelompok ini, Sekar harus melakukan pendekatan dengan keluarga mereka terlebih dulu. Tidak mudah, sebab anak-anak ini benar-benar tertutup dengan orang baru. Baru tanyakan soal tempat tinggal saja, anak-anak ini langsung mengernyitkan dahi. “Ada apa? Mau apa? Kenapa tanya-tanya?” cecar mereka.
Bagi anak-anak ini, tempat tinggal adalah suatu hal yang yang sangat dijaga kerahasiaannya. Pasalnya, bila sudah banyak yang mengetahui tempat tinggal, pastilah banyak orang yang akan berkunjung. “Orang” yang dimaksud di sini bukanlah orang biasa, melainkan institusi, lembaga pemerintah, hingga LSM, yang sering menjaring anak-anak dan orang tua mereka agar tak turun ke jalan lagi. Inilah yang ingin dihindari para pengamen dan pengemis jalanan.

Agar bisa berkenalan dan diterima, Sekar harus mencopot identitas wartawan. Hari pertama berkenalan dengan anak-anak ini, kami terkejut karena ternyata sebagian dari mereka mempunyai telepon selular atau ponsel. Ketika kami menanyakan nomor HP, spontan anak-anak itu menjawab, “Kosong delapan…kapan-kapan kita ke Dufan.” Begitu canda mereka sambil mencibir, menggambarkan keengganan menyebut nomor.

WAJIB MENGEMIS & MENGAMEN
Seperti yang mungkin sudah diduga banyak orang, para pengemis dan pengamen anak ini sudah melupakan pendidikan. Sebenarnya ada kesempatan untuk sekolah, tapi kemauan mereka yang sudah lenyap. Ketua LSM (lembaga swadaya masyarakat) SWARA, Endang Mintarja, yang bergiat untuk anak-anak jalanan di sekitar Jakarta Timur menyebut kondisi ini sebagai titik “aman” orang tua.
Maksudnya, orang tua memang sengaja membiarkan anak-anaknya mengemis dan mengamen di jalanan. “Kenapa dibiarkan? Karena mereka juga mengambil keuntungan dari situ,” katanya. Lalu mengenai pendidikan, beberapa tahun ke belakang Endang dan beberapa timnya memberikan ke­sempatan kepada anak-anak ini untuk sekolah. Masalah biaya SWARA akan berusaha membantu.

Namun kenyataannya tak banyak orang tua dan anak-anak yang tertarik dengan program ini. Mereka lebih senang di jalanan ketimbang harus duduk dan belajar di sekolah. Endang bahkan sudah mengalokasikan uang bagi anak-anak yang mau belajar. Mi­salnya, setiap hari Jumat dan Sabtu SWARA mengundang anak-anak jalanan untuk belajar di kantor SWARA di bilangan Prumpung. Bagi anak yang hadir akan diberikan uang sebesar Rp10 ribu. “Uang itu hitung-hitung sebagai ganti rugi mereka mengamen dan mengemis,” tuturnya.
Ternyata cara ini pun tidak lantas membuat anak-anak tertarik untuk belajar. Ketika Sekar mengikuti kegiatan belajar ini, mayoritas dari mereka malah asyik bersenda-gurau. Misalnya ketika salah seorang guru menjelaskan tentang fungsi RW (rukun warga), tiba-tiba seorang anak langsung berteriak, “Rukun Warga tidak ada fungsinya karena masyarakat selalu berkelahi.” Jawaban itu langsung diikuti gelak tawa teman-temannya.
Begitu pula ketika mereka disuruh membacakan Pancasila. Seorang anak dengan cepat langsung mengacungkan tangannya dan berdiri di antara anak-anak lainnya. “Pancasila! Satu, Ketuhanan yang Maha Esa. Dua, mari mengamen sama-sama,” kata anak itu sambil tertawa terbahak-bahak. Tak ayal sang guru hanya menggeleng-gelengkan kepala. Anak-anak itu benar-benar liar dan susah diatur.

Dari 105 jumlah anak-anak jalanan di sekitar Prumpung, hanya setengahnya yang mau ikut belajar. Itu pun mereka harus dipaksa dan diming-imingi uang. Melalui program belajar inilah kami bisa berkenalan dengan F, gadis berusia 13 tahun. Di usia setua itu F masih duduk di bangku kelas 3 SD. Terkadang ia malu dengan teman-temannya yang lain karena badannya paling besar. “Harusnya kan saya sudah SMP,” katanya sedih.
Keinginan F untuk belajar tidak datang secara tiba-tiba. Sebelumnya beberapa kali ia ditawari oleh tim dari SWARA untuk mendaftar sekolah, tapi tidak mau. Ia memilih untuk te­rus mengamen di jalanan. F tinggal di sebuah rumah petak di sekitar Prumpung bersama kedua orang tua dan tiga adiknya. Ayah dan ibunya adalah pedagang asongan di sekitar Jatinegara. Barang yang dijual bermacam-macam, mulai dari rokok, minuman, atau apa saja. Yang penting laku dijual.

Pendapatan bersih rata-rata kedua orang tua F hanya Rp20 ribu sehari. Uang itu harus digunakan untuk membayar sewa rumah petak seharga Rp200 ribu per bulan. Rumah itu jauh dari kesan nyaman. Ruangan yang hanya berukuran 3 x 3 meter itu digunakan untuk tidur, masak, dan tempat berkumpul. Kamar mandinya berukuran 1 x 1 meter, namun pintu untuk menutup kamar mandi hanya papan tripleks yang disandarkan. Bila akan menggunakan kamar mandi, kayu tripleks harus diangkat untuk menutup pintu. Jika sewaktu-waktu angin kencang bertiup, papan tripleks bisa terjatuh. Itu belum seberapa. Bila salah satu anggota keluarga F sedang buang air besar, baunya akan “terbang” ke sekeliling ruangan.
Sebagian besar pendapatan kedua orang tua F dari berjualan di pinggir jalan habis untuk membayar kontrak­an ala kadarnya ini. Uang yang tersisa mereka pergunakan untuk makan sehari-hari. Tentu saja tidak cukup. Itulah alasan sang ibu menyuruh F mencari uang di jalanan. Caranya? Ya, terserah. Mau mengamen atau mengemis, sang ibu tidak akan keberatan.

Malah ketika F berusia 3 tahun, sang ibu sudah membawanya berjualan di pinggir jalan sambil digendong-gendong. Tak peduli debu, terik matahari, dan hujan. Ketika sudah berusia 7 tahun, barulah F disuruh mencari uang sendiri. Setiap hari anak ini bisa me­ngantongi uang Rp10 ribu sampai Rp20 ribu dari mengamen dan mengemis.
Untuk mengamen tak diperlukan keahlian apa pun. Cukup menyanyi dan bertepuk tangan, jadilah sebuah nyanyi­an. “Tak perlu merdu, yang pen­ting memelas,” kata F sambil tersenyum. Uang yang ia dapat sebagian diberikan kepada orang tua. Sedangkan sebagian lagi digunakan untuk membeli aksesori, seperti gelang dan kalung.

KORBAN KEKERASAN & PELECEHAN SEKSUAL
Kedua orang tua F tak pernah menghiraukan keberadaan anaknya. Yang mereka tahu, bila tidak pulang ke rumah berarti anak ini tidur di pinggir jalan. Pergaulan F pun terbilang luar biasa. Di usia semuda itu ia sudah sering berganti-ganti pacar. Bahkan meraba-raba badan pasangan menjadi hal yang biasa baginya.
Kami sempat melihat komunikasi anak ini dengan pacarnya. Bila sang pacar meledek F, anak ini tak segan-segan menempeleng kepala sang pacar. Begitu pula sebaliknya. Sang pacar sering menjambak rambut F. Menurut F, orang tuanya memang sering tak peduli pada anak. Ketidakpedulian mereka bahkan telah merenggut nyawa dua orang adiknya. Peristiwanya bermula ketika sang ibu sering membawa adik F yang nomor dua berjulalan di pinggir jalan. Alasannya klise, di rumah tidak ada yang menjaga sang anak.
Suatu hari dada si anak sesak dan sulit bernapas. Ketika dibawa ke rumah sakit, si anak dinyatakan mengalami gangguan pernapasan akut dan sulit disembuhkan. Penyebab utamanya adalah polusi karena terlalu sering mengisap debu dan asap knalpot. Nyawa si anak tak bisa tertolong dan F pun kehilangan satu adiknya.
Bukannya kapok, sang ibu kembali membawa anak berjualan di pinggir jalan. Kali ini yang dibawa adalah anak ketiganya. Hanya selang satu tahun, anak ini juga meninggal. Namun sang ibu selalu mengelak kalau anaknya itu meninggal karena gangguan pernapasan akibat polusi. Menurutnya, kedua anaknya itu meninggal akibat salah minum obat.

Tak jauh berbeda dengan kehidup­an F, Aris (bukan nama sebenarnya) juga harus mencari uang di jalanan. Padahal sang ayah, M masih mampu mencarikan biaya untuk anak laki-laki berusia 8 tahun ini. M adalah penjual kerupuk keliling di sekitar Jakarta Timur. Penghasilannya per hari kurang lebih Rp50 ribu. Artinya dalam sebulan M bisa mengantongi penghasilan kurang lebih Rp1,5 juta per bulan.
Kondisi keuangan yang cukup baik ini tidak lantas membuat Aris senang. Ia sama seperti anak-anak yang lain, wajib mengemis di jalanan. Bukan semata-mata karena butuh, tapi karena disuruh orang tua. Setiap hari, dari pagi sampai malam, ia harus mengemis di sekitar Jakarta Timur. Bila sekali saja tidak mencari uang, ayahnya akan memukuli Aris. Akibat terlalu sering dipukul oleh sang ayah, telinga sebelah kanannya tidak bisa berfungsi lagi. Sangat menyedihkan.

Sifat kasar sang ayah mulai muncul sejak Aris berusia 4 tahun. Saat itu M bercerai dengan istrinya gara-gara sang istri berselingkuh. Ia marah dan kesal. Semua emosi itu ia lampiaskan kepada Aris. Saat marah ia bisa berubah seperti orang kesurupan. Semua benda yang ada di sampingnya hancur berantakan.
Pernah suatu ketika M tengah makan nasi hangat. Aris yang tengah ba­ngun tidur tiba-tiba menangis. Ber­ulang kali M menyuruh anak itu untuk diam tapi tak bisa. Aris malah semakin kencang menangis. Kesal mendengar hal itu, M pun melempar piring beserta nasi hangat itu ke pipi Aris. Anak itu pun pingsan dan pipinya melepuh.
Saat M menceritakan peristiwa ini kepada Sekar, M menyuruh Aris menunjukkan bekas-bekas luka itu. Anehnya, M malah bangga karena telah berhasil membuat anak satu-satunya itu takut kepadanya. Sambil tertawa terbahak-bahak, M mempertontonkan kepada kami luka anaknya itu. Tak hanya kekerasan fisik, M juga sering mengajak anaknya ini ke tempat prostitusi di daerah Jatinegara.
Di tempat maksiat itu, Aris disuruh menunggu di luar, sementara M asyik berhubungan intim dengan wanita lain di dalam tenda. “Saya mau mengajar anak ini untuk berani,” begitu alasan M saat mengajak anaknya datang ke tempat prostitusi.

Tak jauh berbeda dengan cerita Aris, lelaki bernama R juga menjadi korban kekerasan. Bedanya R adalah korban kekerasan seksual. Semenjak dibuang oleh orang tuanya, R harus berjuang menyambung hidup di jalan. Semenjak usia 7 tahun ia sudah mengemis di jalan. Namun sayang, ada orang-orang usil kepada anak ini.

Setiap hari ia selalu menjadi pelampiasan nafsu laki-laki bejat. Ia juga beberapa kali pernah (maaf) disodomi. Kini R berperilaku seperti perempuan. Di usianya yang baru 13 tahun, R se­ring dipanggil banci oleh orang-orang sekitarnya. Kepalang basah, akhirnya R pun menganggap dirinya sebagai perempuan. Setiap hari ia selalu memakai celana yang berukuran pas dengan kaki. Rambutnya panjang sebahu. Tak lupa ia juga acap memakai bedak dan lipstik.

Begitulah penampilan R saat turun ke jalan untuk mengemis dan mengamen. Diam-diam seorang induk semang pelacur memperhatikan tingkah laku R ini. Suatu hari ia diculik dan dibawa ke satu tempat. Di ruangan berukuran 3 x 3 meter sudah menunggu seorang laki-laki berbadan tegap. R kaget dan tak tahu harus berbuat apa. Laki-laki itu memaksa anak ini melayani dirinya.
Baru selesai laki-laki pertama, masuk lelaki kedua. Setelah itu masuk lagi yang ketiga, keempat, hingga ketujuh. R diancam. Kalau tidak mau melayani ketujuh lelaki itu, ia akan disiksa. Akhirnya anak ini pasrah dan menerima saja. Kondisi mengenaskan ini bukan cerita fiksi atau karangan. Inilah realita yang terjadi pada sebagian pengamen dan pengemis anak di ibu kota.

Rencananya, untuk mengurangi anak-anak jalanan seperti cerita di atas, para LSM akan bahu-membahu dengan pemerintah agar jumlah mereka berkurang. Targetnya, menurut Endang, pada tahun 2014 sudah tidak ada lagi anak-anak jalanan di ibu kota. “Semua orang harus mendukung program ini. Minimal sadarkan kepada mereka bahwa jalanan bukanlah dunia untuk anak-anak. Mereka berhak mendapat kehidupan yang lebih baik. Me­reka berhak bermain dan bukan disiksa atau dipaksa mencari uang di jalanan,” tutupnya tegas.

ANALISA :

A. Penderitaan

Pada kisah ini, banyak diceritakan penderitaan yang dialami para anak jalanan, tekanan ekonomi keluarga dan "kewajiban" untuk mengemis dan mengamen merupakan hal yang sudah pasti akan mereka lakukan dijalan. Untuk biaya makan dan sehari - hari mereka harus mengamen dan mengemis di jalan.

B. Siksaan

Ada beberapa yang mengalami siksaan psikis. Adapaun, yang mampu untuk membiayai kebutuhan ekonomi keluarga, tetap sang anak wajib untuk mengemis di jalan, kalaupun tidak mengemis, maka akan dipukuli oleh ayahnya. Siksaan psikis tersebut berakibatkan salah satu telinga sebelah kanan tidak berfungsi lagi. Sangat menyedihkan.

C. Kekalutan Mental

Kekalutan mental yang dialami oleh salah satu anak jalanan adalah Pelecehan Seksual dimana seorang anak laki - laki yaitu "R" menjadi korban pelecehan seksual, bahkan dipaksa untuk melayanani laki - laki oleh seorang induk semang. Akibat ini, mental yang ditimbulkan adalah sang anak yaitu "R" berubah tingkah nya menjadi seorang perempuan.

D. Penderitaan dan Perjuangan

Akibat banyaknya kasus anak jalanan yang tidak aman baik di rumah sendiri maupun di lingkungan sosial, LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) berencana untuk membuat program untuk mengurangi anak jalanan di Indonesia. Melalui program yang digalakan itu, LSM berharap agar anak jalanan berkurang dan mengurangi penderitaan yang dialami dan efek yang dirasakan mereka selama ini sebagai anak jalanan.

Sumber : http://www.majalahsekar.com/component/content/article/2-headline/179-investigasi-kisah-pilu-kehidupan-anak-jalanan

Nama : Januaristi Rahmi
NPM : 1A113054
Kelas : 4 KA 38

Jumat, 25 April 2014

ANALISA TEMPAT WISATA



Tempat Wisata Pulau Peucang Taman Nasional Ujung Kulon

Pulau Peucang sebuah pulau di sebuah kawasan Taman Nasional Ujung Kulon situs warisan alam dunia (world heritage site) kawasan ini membentang di ujung barat pulau Jawa di mana bertemunya samudra Indonesia dan perairan Selat Sunda, sebagai daerah yang kaya dengan flora dan fauna dengan kehidupan bawah lautnya yang kaya dengan beraneka warna warni terumbu karang,  perpanduan antara lautan dan daratan menjadikanya daerah ini sebagai  daerah objek wisata alam,  keindahan alam nya yang di keliling hutan hujan tropis yang masih asli dengan kehidupan binatang - bintangnya yang selalu mengembara sejak ratusan tahun sampai sekarang,  kawasan yang di kelilingi dengan hamparan pantai yang berpasir putih dengan laut yang biru jernih menjadikan kawasan ini sebagai dunia yang hilang (the lost world).

Tempat yang sangat ideal bagi liburan keluarga Anda, teman atau group perusahaan  yang ingin ber istirahat sejenak untuk menghilangkan kepenatan dan activitas sehari - hari yang jauh dari modernisasi perkotaan dan alam adalah atmosfir spiritual bagi energi Anda. Pulau Peucang adalah pulau kecil tapi sangat indah di lepas pantai utara barat Taman Nasional, unik dan menyenangkan pulau tropis dengan pantai berpasir putih, perairan pesisir yang ber air biru dengan hamparan  terumbu karang berhiaskan ikan yang berwarna - warni. Berbagai jenis binatang liar bisa temukan kawasan hutan ini.Pulau Peucang adalah salah satu resor wisata yang ideal untuk ekowisata dan kegiatan wisata bahari, serta petualangan. "Peucang" dalam bahasa setempat adalah rusa,  karena disini Kita bisa menemukan ratusan rusa yang hidup di hutan pulau peucang, bersama dengan binatang liar lainnya, seperti monyet, burung enggang, biawak dan babi hutan.

Analisa :
1. Nilai Estetika pada tempat wisata ini adalah Pulau Peucang ini adalah salah satu kawasan objek wisata alam yang sangat indah yang terletak di lepas pantai utara barat di Taman Nasional Ujung Kulon. Tempat yang masih di kelilingi oleh hutan tropis, hamparan pasir putih, serta flora dan fauna yang masih sangat indah. Tempat wisata yang sangat ideal untuk melepas penat dengan segala aktivitas sehari - hari. Selain itu, di dekat Pulau Peucang pun ada kawasan wisata Gunung Krakatau bagi pecinta alam yang ingin naik gunung dan Pulau Panaitan untuk yang ingin surfing.

Sumber : http://www.peucangisland.com/id/

Nama : Januaristi Rahmi
NPM : 1A113054
Kelas : 4KA38 

Kamis, 17 April 2014

ANALISA KARYA SASTRA MANUSIA DAN CINTA KASIH

Doa dalam Lagu

Ibuku karena engkau merahimiku Merendalah tenteram karena besarlah anakmu

Ayahku karena engkau menatahku Berlegalah di kursi angguk laki-laki anakmu

Tuhanku karena aku karat di kakiMu Beri mereka kesejukan dalam dan biru. 
 
 
ANALISA :
 
Hubungan Puisi dengan Manusia dan Cinta Kasih adalah, dalam puisi ini menceritakan tentang cinta kasih seorang anak terhadap Orang Tuanya. Dari cara pemberian cinta kasih ini, dapat termasuk dalam :
1. Orang Tua bersifat aktif, si anak bersifat aktif.
    Dalam hal ini, orang tua dan anak saling memberikan kasih sayang. Terlihat dari gaya bahasa sang penyair yang berterima kasih kepada orang tua yang sudah melahirkannya di dalam kehidupan serta berterima kasih atas bimbingan yang diberikan orang tuanya.

Puisi ini juga termasuk dalam cinta menurut ajaran agama. Yaitu menunjukan cinta kepda Allah. Dilihat dari gaya bahasa dalam bait terakhir. Tidak dalam shalat, pujian, serta doa saja, tetapi juga di dalam bahasa puisi sang penyair yang bersyukur kepada Tuhannya.


Puisi : Karya Taufiq Ismail
Judul Puisi : Doa dalam Lagu
Sumber : http://taufiqismail.com/puisi-puisi-awal-1953-1960/30-doa-dalam-lagu

Nama : Januaristi Rahmi
NPM : 1A113054
Kelas : 4KA38

Kamis, 10 April 2014

ANALISA KARYA SASTRA PUISI

Pulang

Dengan bertiupnya angin sehari-hari penuh pengejekan Dan pekayuan dipukul angin dan tertunjam, cintaku datang Dengan dendangnya mencariku di bawah belahan bintang Dan senyum padaku, memenuhi duniaku Jam demi jam, seperti saja dia belum almarhum.

Dan kutunggu dia di bawah pepohonan bungkuk, menunggu Kumaukan kemeja yang dipakainya; sandal-sandalnya yang hangus Seakan dia berjalan di atas api mendesirkan darahku sebagai Tanda kedatangannya, dan kuraih Kubawa ke rumah sampan dan kukubur di perut lantai.

Kuawasi pepohonan tepi air kukira Bumi seakan telah lama menatapku, dan cintaku Pergi mendanau seakan dia tak pernah kenal Tinggallah aku bimbang apa betul dia tak kenal Terlalu remaja! Aku pergi dan tersedu di rumah sampan.

ANALISA :

1. Figur Bahasa : Figur bahasa pada puisi diatas memakai Figur Bahasa Personifikasi dengan membandingkan sesuatu dari benda mati seolah - olah menjadi benda hidup. Dengan kalimat " Dengan bertiupnya angin sehari-hari penuh pengejekan".

2. Kata - kata Ambiquitas yang dipakai yang memiliki banyak tafsir adalah
"Dan pekayuan dipukul angin dan tertunjam"
"Sandal-sandalnya yang hangus Seakan dia berjalan di atas api mendesirkan darahku sebagai Tanda kedatangannya".
 
3. Kata - kata berjiwa yang terdapat dalam puisi di atas adalah :
" Tinggallah aku bimbang apa betul dia tak kenal."
" Aku pergi dan tersedu di rumah sampan."

4. Kata - kata konotatif yang dipakai dalam puisi ini adalah :
"Tertunjam" yang mempunyai makna seperti tertusuk.
"Tersedu" yang mempunyai makna sedih.

Hubungan Puisi dan Ilmu Budaya Dasar adalah termasuk dalam Puisi dan keinsyafan/kesadaran individual. Dimana puisi ini menceritakan bagaimana pengalaman penulis ditinggal oleh seorang kasih yang disayanginya. Bagaimana orang yang dikasihinya seakan sudah tidak mengenal dirinya lagi. Gambaran perasaan dalam hati penulis pada puisi ini pun bimbang dan sedih.

Puisi : Karya Taufiq Ismail
Judul Puisi : Pulang
Sumber : http://taufiqismail.com/puisi-puisi-awal-1953-1960/18-pulang

Nama : Januaristi Rahmi
NPM : 1A113054
Kelas : 4KA38